Tampilkan postingan dengan label BEST ART. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEST ART. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 April 2017

Makna filosofis tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng

"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudhel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong."

 Berikut kita sibak maknanya :
 Cublak-cublak suweng
Cublak adalah tempat, dan Suweng adalah nama salah satu jenis perhiasan wanita (harta yang sangat berharga). Dalam lirik pertama digambarkan bahwa ‘ada sebuah tempat dimana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga
Suwenge teng gelenter
Suwenge adalah nama jenis perhiasan tersebut atau harta yang sangat berharga tersebut. Teng Gelenter adalah berserakan dimana-mana, terdapat dimana-mana, ada disemua arah penjuru.
Mambu ketundhung gudhel
Mambu adalah tercium. Ketundhung adalah dituju. Gudhel adalah sebutan anak Kerbau. Tercium yang kemudian dituju oleh anak Kerbau. Lirik ini menggambarkan adanya sebuah kabar yang didengar oleh orang bodoh atau orang yang tidak tahu (digambarkan sebagai Gudhel) . Orang-orang yang tidak tahu ini mendengar sebuah kabar yang kemudian menuju ke arah kabar tersebut.
Pak empo lera-lere
Pak empo adalah gambaran dari orang-orang bodoh tersebut. Lera-lere adalah tengak-tongok kiri kanan. Lirik ini menggambarkan bahwa orang-orang bodhoh tersebut hanya tengak-tengok kiri-kanan tidak tahu apa-apa.
 Sopo ngguyu ndhelikake
Sopo ngguyu adalah siapa yang tertawa. Ndhelikake adalah menyembunyikan. Lirik ini menggambarkan bahwa ada yang menyembunyikan sesuatu dan tetap tertawa. Artinya ia tertawa bahwa tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
Sir-sir pong dele kopong
Pong adalah pengulangan kata dari dele kopong. Dele kopong adalah kedelai yang kosong tidak ada isinya. Lirik ini menggambarkan tentang kekosongan jiwa, kekosongan pikiran, kekosongan ilmu, dan juga Orang yang banyak bicara tapi sedikit ilmunya. Sedangkan Sir artinya hati nurani. Sir disini merupakan jawaban dari pertanyaan pertama diatas.
 Mari kita rangkai lagu ini secara utuh:
 Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudhel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.

Kemudian mari kita maknai secara utuh agar kita mendapatkan keutuhan dari filosofi lagu ini

Ada sebuah tempat, dimana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga (Cublak-cublak suweng). Namun walaupun ada tempatnya, harta yang sangat berharga tersebut tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana (suwenge teng gelenter). Disini menjadi sebuah pertanyaan awal: bila ada sebuah tempat dan tempat tersebut menyimpan harta sangat berharga, sedangkan harta itu sendiri tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana. Tempat manakah itu? Tempat yang menyimpan harta namun hartanya terdapat dimana-mana. Lha kan aneh? Hartanya tersimpan disebuah tempat namun harta tersebut juga berada dimana-mana. Sang penulis lagu ini sedang membeberkan konsep ‘keberlimpahan’ menjadi sebuah lagu sederhana.
Mari kita cermati lebih lanjut. Suwenge teng gelenter yang menggambarkan bahwa harta yang sangat berharga tersebut tercecer dimana-mana, terdapat dimana-mana adalah sebuah gambaran keberlimpahan hidup. Disekeliling kita, kanan kiri atas bawah terdapat harta tersebut. Tentu saja ini sebuah berita yang mengejutkan bagi sebagian orang yang disini digambarkan sebagai ‘Gudhel’: Benarkah keberlimpahan hidup tidak jauh dari kita? Masak sih? Dimana tempatnya sehingga aku bisa mudah mengambilnya? Berita tersebut memicu orang-orang bodoh, orang-orang berpengetahuan sempit (mambu ketundhung gudhel) untuk bergegas mencarinya. Mereka karena tidak dibekali pengetahuan jiwa maka walaupun banyak yang merasa menemukan harta yang mereka anggap berharga, tetap saja mereka masih merasa kurang dan selalu menengok kiri-kanan (pak empo lera-lere). Kesuksesan, materi, nama besar, jabatan, yang semua itu dianggap keberlimpahan tetap saja mengakibatkan bingung dan tidak puas. Mereka masih ‘pak empo lera-lere’. Pak empo lera-lere juga dapat menggambarkan penderitaan dari orang-orang bodoh yang merasa menemukan keberlimpahan tersebut. Dibalik semua itu, ada orang-orang yang sudah menemukan keberlimpahan. Mereka yang sudah menemukan harta yang sangat berharga tersebut, melihat orang-orang yang selalu mengejar keberlimpahan palsu, mereka hanya tertawa saja (sopo ngguyu ndhelikake). Mereka tertawa seakan-akan menyembunyikan rahasia: eh bukan itu lho! Itu palsu! Itu hanya ilusi dunia! Lalu yang terakhir, orang-orang bodoh ini, para Gudhel ini yang kemudian malah berkoar-koar sudah menemukan. Mereka banyak bicara, bahkan mengajarkan cara untuk menemukannya. Padahal ‘dele kopong’, dele kopong yaitu yang banyak bicara adalah orang tak berisi. Dele kopong bila dalam peribahasa Indonesia adalah Tong kosong nyaring bunyinya.
Konsep keberlimpahan hidup dalam lagu Cublak-cublak Suweng ini sangat istimewa. Orang-orang bodoh selalu mencarinya keluar dari dirinya (mambu ketundhung gudhel) sehingga ia tetap merasa bingung dalam hidup (pak empo lera-lere). Sementara orang bijaksana (sopo ngguyu ndhelikake) menyadari bahwa tempat rahasia (cublak) yang merupakan tempat menyimpan harta sangat berharga (suweng) yang sekaligus membuat harta tersebut tersebar dimana-mana (suwenge teng gelenter) ada di dalam ‘Sir‘ (kata pertama dalam kalimat sir sir pong dele kopong), Sir adalah hati nurani manusia! Di lain daerah (diingatkan oleh sahabat saya, mas Ronggo Sutikno dari Jawa Timur), lirik terakhir ada yang berbunyi demikian: Sir sir pong udele bodong, sir sir pong udele bodong Lirik ini juga merupakan sebuah nasehat atau ‘jalan’ istimewa untuk menemukanCublak itu tadi. Bagaimana caranya menemukan tempat bagi harta yang sangat berharga tersebut? Yaitu sir pong udele bodong! Sir adalah Hati Nurani, sedangkan pong udele bodong adalah sebuah ‘sasmita’ atau gambaran tentang wujud yang tidak memakai apa-apa sehingga udel atau pusarnya kelihatan. Telanjang atau orang yang tidak memakai artibut apa-apa adalah orang sederhana, rendah hati, mengedepankan rasa dan selalu memuliakan orang lain. Yang akan menemukan ‘Cublak’ tersebut adalah orang yang polos, tidak memakai atribut, tidak memakai ego kepemilikan dan kemelekatan, dan itu bukanlah para Gudhel! Ia sekali lagi adalah para pong udele bodong, yaitu orang-orang polos, sederhana, dan bersih hatinya.

Senin, 30 Januari 2017

AHANGKARA : Kisah Kehancuran Majapahit (Novel)


Novel ahangkara kisah majapahit / novel terbaru 2017


“Zaman telah berubah. Sudah tiba masanya sikap hormat terhadap keyakinan lain terkikis. Aku tak tahu sampai kapan ini melanda tanah Jawa. Kita harus mengubur candi ini untuk menyelamatkannya. Ia akan dihancurkan jika masih terlihat. Suatu saat, anak-cucu kita akan memunculkan kembali candi ini dari tanah, merawat dan mencintainya sepenuh hati.”

Demak tak pernah sanggup tidur nyenyak setelah menghancurkan Majapahit pada 1478 dan menobatkan Nyo Lay Wa sebagai raja boneka. Kekuatan yang masih setia pada Majapahit bisa memberontak kapan saja. Penguasa Demak, Trenggana, pun menggalang kekuatan untuk menaklukkan seluruh tanah Jawa. Dahanapura siap menyambut pasukan Demak setelah menyelamatkan lontar-lontar warisan Majapahit. Di Tuban, telik sandi disebar, seluruh pasukan disiagakan. Namun, Demak dibayang-bayangi kekuatan yang ingin membelokkan tujuan perang. Mereka ingin mengubah perang penaklukan Jawa menjadi perang antar-keyakinan, menghapus agama leluhur Jawa sekaligus aliran agama Rasul yang dianggap sesat, terutama Aliran Tuban Sunan Kalijaga dan Aliran Lemahbang Syekh Siti Jenar.

Laskar Demak berhasil menghancurkan Dahanapura yang mengobarkan perang puputan. Tuban menyerah dalam hitungan hari. Atas nasihat Sunan Kalijaga, Adipati Tuban Arya Gegilang menjalankan Siasat Wijaya untuk melawan Demak. Strategi perang warisan Raden Wijaya ketika menumpas pasukan Tartar itu dijalankan selama 19 tahun tanpa henti. Perang telik sandi, persekongkolan, pengkhianatan, dan balas dendam terjadi sepanjang waktu.

Novel langka ini baru beredar di toko mulai 15 Februari 2017. Harga asli Rp95 ribu. Harga dari penerbit Rp76 ribu (belum ongkir). Tersedia 200 buku bertanda tangan penulis bagi pemesan pertama.
.
CARA PEMESANAN: Tulis nama dan alamat ke inbox atau SMS/WA ke: 081287654445.
.
---------------------------------
Penulis: Makinuddin Samin
Jumlah Halaman: 500 hlm.

Minggu, 24 April 2016

Balada Penganggur

Bapakku pegawai kecil
Hidup kami pas pasan
Jangan tanya masa depan
Sebab kami tak sempat memikirkan

Setiap hari kami menanti
Akan datangnya nasib baik
Aku tamatan SMA
Ijazahku kurang berarti

Tiap hari gentayangan
Ingin sekolah tak ada biaya
Orang berkata raih masa depanmu
Aku berkata rebutlah hari ini

Aku adalah contoh sial dijaman ini
Mencari diri mengubah nasib membakar mimpi

Aku masih punya masa depan
Tentang esok entah sampai kapan
Pasti kutemui jalanku

Aku dan teman temanku
Bernyanyi balada penganggur
Bernyanyi nyanyi terus bernyanyi
Sampai matahari muncul ke bumi
Hari hariku terasa panjang
Kemarin pergi esok menanti



Selasa, 12 April 2016

Belalang Tua

Jika diperhatikan lebih lanjut, lirik lagu karya Iwan Fals ini sebenarnya menyindir penguasa orde baru di masa itu. Kali ini saya akan membahasnya berdasarkan cocoklogi.

Sebelumnya mari perhatikan liriknya berikut ini


Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang

Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang

Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang kakinya mencengkeram daun
Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar

Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah

Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah

Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas

Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir



Berdasarkan teori cocoklogi kawan-kawan saya dan juga saya pribadi, kata 'Belalang Tua' jelas merujuk pada Penguasa orde baru.

Kata 'Rakus' dan 'Tak kenyang-kenyang' juga cukup menjelaskan sifatnya.

Lirik 'Badannya bergoyang ditiup angin'  merujuk pada Penguasa orde baru yang pada waktu itu terus digoyang sana-sini, ditentang sana-sini dengan aksi demonstrasi.
Pada lirik 'Tiba-tiba angin mendesir, daunpun berhenti bergoyang' dan ' Dengan tenang meninggalkan harta karun' juga cukup menjelaskan tentang akhir dari kekuasaan orde baru.
*Sebatas Cocoklogi

Rabu, 23 Maret 2016

Bicaralah Dengan Cinta

Lagu karya Sawung Jabo yang sering dinyanyikan bersama kelompoknya yaitu Sirkus Barock.

Berikut ini adalah liriknya


Mari belajar mendengar
Mari belajar bersabar
Jangan merasa paling benar
Merasa paling pintar

Jangan suka marah-marah
Jangan suka memfitnah
Jangan suka menghakimi
Jangan suka anarki

Jangan merasa suci, jangan suka membenci
Dengarkan nuranimu, bicaralah dengan cinta

Jaga kata-katamu, jaga kelakuanmu
Dengarkan nuranimu, bicaralah dengan cinta

Marilah kita belajar
Menghargai perbedaan
Jangan memaksakan kehendak
Jangan pakai kekerasan

Dunia ini milik bersama
Hidup milik semua
Mari kita saling menjaga
Hayati hidup bersama



Dan ini adalah quote terkait

JUANCOK IKU SAKTI

Jancok dalam bahasa di daerah Jawa Timur adalah satu dari sekian kata-kata kasar. Tapi, Sawung Jabo membeberkan makna kata ini seluas-luasnya dalam lagunya yang berjudul Juancok Iku Sakti.

Berikut ini adalah lirik lagu Juancok iku sakti.


Tangi turu moco koran
Beritane gak karuan
Wong korupsi dadi menteri
Pringas-pringis nang Televisi

Bendino mangan pidato
Rakyat dianggep sik bodo
Jarene negoro suge
Tapi kok akeh utange…..Juancuook,….Juancuoook!

Ala gempo leba lebo
Ono kebo buntute loro
Orip koyok layangan pedhot
Tambah suwe tambah ngesot
Mlaku – mlaku nang Tunjungan
Ngilangakno ruwet pikiran
Bokong bunder megal-megol
Bengine turuku ngompol…..Juancuook,….Juancuoook!

Juancuook iku kata sing sakti
Sak kata jutaan artine
Mulai jaman durung onok setan
Yo ngono carane nyampekno uneg-uneg
Durung mesti iku maksute kurang ajar
Seneng sedih mangkel ngamuk sak sembarange….
Juancuoook!

Konco-konco dulur-dulur
Nandak gaya undur-undur
Laut alasmu wis ajur
Digerogoti setan gundul
Lik Tini pinter kidungan
Goyangane nggregetno ati
Wis tobato ojo korupsi
Nek gak tobat tak pisuhi…..Juancuook,….Juancuoook!



Rabu, 16 Maret 2016

Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Lagu karya Iwan Fals yang menceritakan tentang keresahan, kesedihan, dan kemarahan akibat rusaknya rimba akibat ulah manusia. Jelas dalam Liriknya betapa hancurnya alam akibat perusakan alam besar-besaran,  pembangunan yang buta tanpa melihat sisi dan nasib dari penghuni rimba.

Berikut ini adalah Liriknya :


Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Dengan hph berbuat semaunya

Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu...

Oh mengapa.....
Oh...oh...ooooo......
Jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita
Pengantar lelap si buyung

Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang
Banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia


Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja

Oh...oh...ooooo......
Jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi
Tak ingat rejeki generasi nanti

Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang
Banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Selasa, 15 Maret 2016

HIO

Lagu karya Sawung Jabo ini ada dalam album SWAMI 2 yang juga beranggotakan Iwan Fals. Lagu yang sarat pesan moral ini masih sering dinyanyikan Iwan Fals dalam konsernya, juga Sawung Jabo bersama grupnya yaitu Sirkus Barock.

Berikut ini adalah Liriknya

Aku tak mau terlibat segala macam tipu menipu
Aku tak mau terlibat segala macam omong kosong
Aku wajar wajar saja
Aku mau apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi
Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan
Aku mau jujur jujur saja
Bicara apa adanya
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Hio hio hio hio hio
Hio hio hio hio hio
Hoo hoo hoo
Hoo hoo hoo
Hoo hoo hoo
Hoo hoo hoo

*Mulane dulur ayo dijogo
Omongane lan kelakuane*

Aku tak mau bicara yang tentang aku sendiri tidak tahu
Aku tak mau mengerti kenapa orang saling mencaci
Aku mau sederhana
Mau baik baik saja
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Aku tak mau kehilangan akal sehat dipikiranku
Aku tak mau menyaksikan ada orang yang dihinakan
Aku hanya tahu
Bahwa orang hidup
Agar jangan mengingkari hati nurani

Hio hio hio hio hio
Hio hio hio hio hio
Hoo hoo hoo
Hoo hoo hoo
Hoo hoo hoo
Hoo hoo hoo

Aku mau wajar wajar saja
Aku mau apa adanya
Aku mau jujur jujur saja
Bicara apa adanya

Aku mau sederhana
Mau baik baik saja
Aku hanya tahu
Bahwa orang hidup
Agar jangan mengingkari hati nurani

Hio hio hio hio hio
Hio hio hio hio hio
Hio hio hio hio hio
Hio hio hio hio hio

Aku tak mau mengingkari hati nurani
Aku tak mau mengingkari hati nurani
Aku tak mau mengingkari hati nurani
Aku tak mau mengingkari hati nurani

Hong Wilaheng

Adalah salah satu karya terbaik dari musisi Gombloh, yang sebagian liriknya ternyata berasal dari serat wedhatama dan juga Pangkur. Ketika didengarkan, lagu ini terasa merasuk dalam jiwa dan memghempaskan segala angkara dalam diri kita, seperti sebuah mantra ajaib yang dibacakan pada kita. Apa mantra ajaib itu?

Mari kita uraikan arti dari lagu Hong Wilaheng ini.

Berikut ini adalah Lirik lagu Hong Wilaheng

Mingkar mingkuring angkoro
Akarono karnan mardi siwi
Sinawung resmining kidhung
Sinubo sinukarto
Aduh Gusti, pakertining ngilmu
Ingkang tumrap ning ngalam dunyo
Agomo ageming aji
Sopo entuk wahyuning Allah
Gya dumilah mangulah ngilmu bangkit
Bangkit mikat reh mangukut
Kukutaning jiwangga
Yen mengkono keno sinebut wong tuwo
Lirih sepuh sepi howo
Awas loro ning atunggil
Hong wilaheng sekaring bawana langgeng…sekarmayang
Hong wilaheng sekaring bawana langgeng…sekarkajang
Hong wilaheng sekaring bawana
Hong wilaheng sekaring bawana


Kini, mari kita artikan satu-persatu lirik lagu yang sangat istimewa ini.


MINGKAR MINGKURING ANGKORO
Artinya meredam nafsu angkara di dalam diri.

AKARONO KARNAN MARDI SIWI
Artinya bila akan mendidik putra-putri

SINAWUNG RESMINING KIDHUNG
Artinya dikemas dalam tembang

SINUBO SINUKARTO
Artinya dihiasi agar tampak indah.

ADUH GUSTI, PAKERTINING NGILMU
Aduh gusti, berikanlah ilmu

INGKANG TUMRAP NING ALAM DUNYO
Artinya yang berlangsung di alam dunia.

AGOMO AGEMING AJI
Artinya, Agama adalah pegangan diri.

SOPO ENTUK WAHYUNING ALLAH
Artinya siapa yang mendapat wahyu(anugerah) dari Allah

GYA DUMILAH MANGULAH NGILMU BANGKIT
Artinya, dia dapat mencerna imu dengan cepat.

BANGKIT MIKAT REH MANGUKUT
Artinya mampu menguasai dirinya

KUKUTANING JIWANGGA
Artinya kesempurnaan jiwa raga

YEN MENGKONO KENO SINEBUT WONG TUWO
Artinya, bila demikian dapat disebut orang tua.

LIRIH SEPUH SEPI HOWO
Artinya orang tua adalah orang yang sepi hawa nafsu

AWAS LORO NING ATUNGGIL
Artinya dapat memahami dwi tunggal

HONG WILAHENG
Artinya kosong dan kosong

SEKARING BAWONO LANGGENG
Artinya jadilah bunga bumi yang semerbak abadi

SEKAR MAYANG
Artinya bunga kelapa

SEKAR KAJANG
Artinya bunga bantal



Memang cukup rumit, tapi demikianlah makna lagu Hong Wilaheng yang saya pelajari dari berbagai sumber.

Terimakasih atas kunjungannya.